Selasa, 04 Juni 2013
Jadwal Kunjungan Rumah PNC
Jadwal kunjungan rumah
a. Kunjungan I (hari ke-1 sampai hari ke-7)
1) Pemberian ASI : bidan mendorong pasien untuk memberikan ASI secara eksklusif, cara menyatukan mulut bayi dengan putting susu, merubah-rubah posisi, mengetahui cara memeras ASI dengan tangan seperlunya, atau dengan metode-metode untuk mencegah nyeri putting dan perawatan putting.
2) Perdarahan : bidan mengkaji warna dan banyaknya atau jumlah yang semestinya, adakah tanda-tanda perdarahan yang berlebihan, yaitu nadi cepat dan suhu naik. Uterus tidak keras dan TFU menaik. Kaji pasien apakah bisa memasase uterus dan ajari cara memasase uterus agar uterus bisa mengeras. Periksa pembalut untuk memastikan tidak asa darah berlebihan.
3) Involusi uterus : bidan mengkaji involusi uterus dan beri penjelasan ke pasien mengenai invousi uterus
4) Pembahasan tentang kelahiran : kaji perasaan ibu dan adakah pertanyaan tentang proses tersebut
5) Bidan mendorong ibu untuk memperkuat ikatan batin antara ibu dan bayi (keluarga), pentingnya sentuhan fisik, komunikasi dan rangsangan
6) Bidan memberikan penyuluhan mengenai tanda-tanda bahaya baik bagi ibu maupun bayi dan rencana mengahadapi keadaan darurat
b. Kunjungan II (hari ke-8 sampai hari ke-28)
1) Diet : bidan memberikan informasi akan makanan yang seimbang, banyak mengandung protein, makanan berserat dan air sebanyak 8-10 gelas per hari untuk mencegah konstipasi, kebutuhan akan jumlah kalori yang lebih besar per hari untuk mendukung laktasi, kebutuhan akan makanan yang mengandung zat besi, suplemen dan folat serta vitamin A jika diindikasikan.
2) Kebersihan /perawatan diri sendiri : bidan menganjurkan pasien untk menjaga kebersihan diri, terutama putting susu dan perineum
3) Senam : bidan mengajarkan senam Kegel serta senam perut yang ringan tergantung pada kondisi ibu dan tingkat diastasis
4) Kebutuhan akan istirahat : bidan menganjurkan pasien untuk cukup tidur ketika bayi sedang tidur, meminta bantuan anggota keluarga untuk mengurusi pekerjaan rumah tangga.
5) Bidan mengkaji adanya tanda-tanda post partum blues
6) Keluarga berencana : pembicaraan awal tentang kembalinya masa subur dan melanjutkan hubungan seksual setelah selesai masa nifas, kebutuhan akan pengendalian kehamilan
7) Tanda-tanda bahaya : bidan memberitahu kapan dan bagaimana menghubungi bidan jika ada tanda-tanda bahaya, misalnya pada ibu dengan riwayat preeklamsia atau risiko eklamsia memerlukan penekanan pada tanda-tanda bahaya dari preeklamsi/eklamsi
8) Perjanjian untuk petemuan berikutnya
c. Kunjungan III (hari ke-29 sampai hari ke -42)
1) Gizi : zat besi/folat, kecukupan diit seperti yang dianjurkan dan petunjuk untuk makan makanan yang bergizi
2) Menentukan dan menyediakan metode dan alat KB
3) Senam : rencana senam yang lebih kuat dan menyeluruh setelah otot abdomen kembali normal
4) Keterampilan membesarkan dan membina anak
5) Rencana untuk asuhan selanjutnya bagi ibu
6) Rencana untuk check-up serta imunisasi
Meilani, Niken. Nanik Setyawati, Dwiana Estiwidani. Sumarah. 2009. Kebidanan Komunitas. Yogyakrta: Fitramaya
Asuhan Kebidanan Komunitas di rumah
Asuhan post partum di rumah difokuskan pada pengkajian, penyuluhan, dan konseling. Dalam memberikan asuhan kebidanan di rumah, bidan, dan keluarga diupayakan dapat berinteraksi dalam suasana yang rileks dan kekeluargaan.
Tantangan yang dihadapi bidan dalam melakukan pengkajian dan peningkatan perawatan pada ibu dan bayi di rumah, pada pelaksanaannya bisa cukup unik, sehingga bidan akan memiliki banyak kesempatan untuk menggunakan keahlian berpikir secara kritis untuk meningkatkan suatu pilihan kreatif perawatan bersama keluarga.
1. Perencanaan Kunjungan Rumah
Dalam memberikan asuhan kebidanan pada perawatan postpartum di rumah, sebaiknya bidan :
a. Merencanakan kunjungan rumah dalam waktu tidak lebih dari 24-48 jam setelah kepulangan klien di rumah
b. Pastikan keluarga telah mengetahui rencana mengenai kunjungan rumah
c. Menjelaskan maksud dan tujuan kunjungan
d. Rencanakan tujuan yang ingin dicapai dan menyusun alat dan perlengkapan yang akan digunakan
e. Pikirkan cara yang dapat digunakan untuk menciptakan dan mengembangkan hubungan yang baik dengan keluarga
f. Melakukan tindakan yang sesuai dengan standar pelayanan kebidanan dalam memberikan asuhan kepada klien
g. Buatlah pendokumentasian mengenai hasil kunjungan
h. Sediakan sarana telepon untuk tindak lanjut asuhan pada klien
2. Keamanan merupakan hal yang harus dipikirkan oleh bidan pada saat melakukan kunjungan rumah tanpa menghiraukan dimana bidan berinteraksi dengan klien. Bagaimananpun bidan harus tetap waspada. Tindakan kewaspadaan ini, dapat meliputi :
a. Mengetahui dengan jelas alamat yang lengkap serta perkiraan arah rumah klien
b. Perhatikan keadaan sekitar lingkungan rumah klien sebelum kunjungan diadakan untuk mengidentifikasi masalah potensial yang kemungkinan akan muncul
c. Beritahu rekan kerja anda ketika anda pergi untuk kunjungan dan beri kabar kepada rekan anda segera setelah kunjungan selesai
d. Bawalah telepon selular dan yakinkan baterai telepon selular telah diisi ulang
e. Membawa cukup uang
f. Menyediakan senter kalau kunjungan rumah dilakukan di malam hari
g. Sebaiknya memakai tanda nama pengenal dan kenakan sepatu yang pantas dan nyaman, serta hindari memakaki perhiasan yang mencolok
h. Tunjukkan perasaan menghargai di setiap kesempatan
Ambarwati, E.R., & Sriati Rismintari. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Yogyakarta : Nuha Medika
Perubahan Fisiologis Masa Nifas
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu terutama pada ibu nifas, merupakan tanggung jawab kita bersama, baik sebagai pelayan kesehatan maupun pemerintah.
Adanya anggapan di masyarakat yang memandang masa nifas adalah hal yang alami. Kkondisi ibu nifas akan pulih dengan sendirinya secara alami, membuat kita tidak memperhatikan kondisi itu. Pada masa nifas juga merupakan periode yang sangat penting bagi kelanjutan masa reproduksi seorang wanita. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga telah memberikan kebijakan program nasional sesuai dengan dasar kesehatan pada ibu nifas yaitu paling sedikit empat kali kunjungan pada masa nifas.
B. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengembangkan pengetahuan tentang perubahan fisiolopgis yang terjadi pada masa nifas.
2. Untuk menambah wawasan kita sebagai mahasiswi Akademi Kebidanan khususnya dan masyarakat luas pada umumnya tentang perubahan fisiologis pada masa nifas.
3. Sebagai pemenuhan tugas darimata kuliah Askeb III (Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas).
C. MANFAAT PENULISAN
1. Untuk mahasiswa, sebagai bahan pembelajaran untuk menambah ilmu pengetahuan.
2. Untuk instansi, sebagai referensi dalam kegiatan perkuliahan untuk mencapai peningkatan mutu dan kualitas mahasiswa dalam mencapai akreditasi.
BAB II PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MASA NIFAS
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium adalah masa sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar dari rahim,sampai enam minggu berikutnya,disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan dengan kandungan ,yang mengalami perubahan pada saat hamil dan melahirkan.
Adapun perubahan-perubahan pada masa nifas meliputi perubahan pada sistem pencernaan, sistem perkemihan, sistem muskuloskeletal, sistem kardiovaskuler dan lain-lain.
B. PERUBAHAN MUSKULOSKELETAL
Perubahan muskuloskeletal atau diatesis rectie abdominis dibagi menjadi :
1. Diatesis
Setiap wanita nifas memiliki derajat diatesis atau konstitusi yaitu keadaan tubuh yang membuat jaringan-jaringan tubuh bereaksi secara luar biasa terhadap rangsangan-rangsangan luar tertentu, sehingga membuat orang itu lebih peka terhadap penyakit-penyakit tertentu. Demikian juga dengan adanya rectie/muskulus rektus yang letaknya terpisah dari abdomen. Seberapa diatesis terpisah ini tergantung dan beberapa faktor termasuk kondisi umum dan tonus otot.
Sebagian besar wanita melakukan ambulasi atau bisa berjalan 4-8 setelah post partum. Ambulasi dini dianjurkan untuk menghindari komplikasi, meningkatkan involusi dan meningkatkan cara pandang emosional. Relaksasi dan penigkatan mobilitas artikulasi pelvic terjadi dalam 6 minggu setelah melahirkan.
Motilisasi atau gerakan dan tonus otot gastrointestinal kembali kekeadaan sebelum hamil dalam 2 minggu setelah melahirkan.
Konstipasi umumnya terjadi selama periode post partum awalnya karena terjadi penurunan tonus otot, rasa tidak nyaman pada perineum dan kecemasan.
Haemoroid adalah peristiwa yang lazim pada periode post partum disebabkan adanya tekanan pada dasar panggul saat mengejan selama proses persalinan.
Jumlah sel-sel otot tidak berkurang banyak, tetapi sel-selnya sendiri jelas berkurang ukurannya.
2. Abdominis dan peritoneum
Akibat peritoneum berkontraksi dan retraksi pasca persalinan dan juga beberapa hari setelah itu, peritoneum yang membungkus sebagian besar dari uterus membentuk lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum dan rotundum, sangat lebih kendor dari kondisi sebelum hamil. Memerlukan waktu lama agar dapat kembali normal seperti semula.
Dinding abdomen tetap kendor untuk sementara waktu, hal ini disebabkan karena sebagai konsekuensi dari putusnya serat-serat elastis kulit dan distensi yang berlangsung lama akibat pembesaran uterus selama hamil. Pemulihannya harus dibantu dengan cara berlatih.
Pasca persalinan dinding perut menjadi longgar, disebabkan karena teregang terlalu lama. Namun demikian umumnya akan pulih dalam waktu 6 minggu.
C. PENANGANAN PADA PERUBAHAN MUSKULOSKELETAL
Perubahan pada masa nifas khususnya perubahan muskuloskeletal walaupun merupakan perubahan fisiologis tetapi bila tidak kelola dengan baik maka hasilnya tidak akan maksimal. Adapun penanganan yang dapat kita lakukan antara lain :
1. Menganjurkan istirahat yang cukup
Anjurkan ibu nifas untuk beristirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan. Dengan istirahat yang cukup akan sangat membantu mempercepat pulihnya otot-otot rahim.
2. Mengajarkan latihan-latihan ringan
Mengajarkan pada ibu nifas tentang pentingnya mengembalikan otot-otot perut dan panggul kembali normal.Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggungnya.
Macam-macam latihan ringan:
a. Dengan tidur terlentang tangan disamping,menarik otot perut selagi menarik nafas tahan nafas kedalam dan angkat dagu ke dada,tahan satu hitungan sampai 5 dan ulangi 10 kali (dilakukan setiap hari).
b. Untuk memperkuat tonus otot vagina dengan latihan Kegel.
c. Dengan melakukan senam nifas .
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Perubahan fisiologis pada masa nifas adalah hal yang alami, tetapi bila tidak dikelola dengan baik hasilnya tidak akan maksimal.
2. Kesadaran masyarakat terutama ibu nifas untuk berperilaku hidup sehat selama masa nifas perlu ditingkatkan melalui asuhan kebidanan selama hamil, melahirkan, maupun masa nifas.
3. Upaya untuk meyakinkan sasaran agar dapat menerima layanan kesehatan yang memberikan manfaat bagi mereka lebih diutamakan melalui promosi kesehatan.
B. SARAN
1. Dengan membaca makalah ini ibu nifas diharapkan dapat memahami dan mengenal tentang perubahan fisiologis pada masa nifas terutama perubahan muskuloskeletal sehingga dapat melakukan latihan-latihan ringan untuk mengembalikan kondisi.
2. Bagi pelayan kesehatan terutama bidan diharapkan dapat melakukan asuhan kebidanan pada ibu nifas secara menyeluruh.
Sirkulasi Peredaran Janin
SISTEM PEREDARAN DARAH JANIN
Sistim Cardiovascular ialah sistim organ pertama yang berfungsi dalam perkembangan manusia.
Pembentukan pembuluh darah dan sel darah di mulai dari minggu ke-3 yang bertujuan menyuplai embrio dengan oksigen dan nutrisi dari ibu.
Sikulasi darah janin dalam rahim tidak sama dengan sirkulasi darah pada anak.
Didalam rahim, paru-paru janin tidak berfungsi sebagai alat pernafasan dan pertukaran gas, karena paru-paru dipenuhi oleh cairan, sehingga janin dalam bernafas dibantu dengan plasenta.
Selain itu, plasenta juga berfungsi untuk sirkulasi darah yang didalamnya terdapat oksigen dan nutrisi makanan dari ibu.
Kemudian setelah lahir darah bayi baru lahir harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan.
Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan di luar rahim harus terjadi dua perubahan besar yaitu :
a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung.
Foramen ovale memungkinkan lewatnya sebagian darah yang mengalami oksigenasi dalam ventrikulus dekstra untuk menuju atrium sinitra,
dari sini darah melewati valvula mitralis ke ventrikulus sinister dan kemudian melalui aorta melalui cabang ascendensnya untuk memasok darah bagi kepala dan extremitas superior.
Dengan demikian hepar, jantung dan serebrum menerima darah baru yang mengalami oksigenasi.
b. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Duktus arteriosus mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventriculus dexter ke dalam aorta descendens untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis dan ekstremitas inferior.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistim pembuluh.
Oksigen menyebabkan sistim pembuluh mengubah tekanan dengan cara mengurangi atau meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.
Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam sistem pembuluh darah antara lain :
1. pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut.
Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri.
Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang.
2. pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan tekanan pada atrium kanan oksigen pada pernafasan ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru.
Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini dan penurunan pada atrium kiri, foramen kanan ini dan penusuran pada atrium kiri, foramen ovali secara fungsional akan menutup.
Vena umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan.
Sehingga
perubahan secara umum pada saat lahir
yaitu :
1. penghentian pasokan darah dari plasenta
2. pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru
3. penutupan folamen ovalen
4. fibrosis, antara lain ;
a. Vena umbulicalis : membawa darah yang kaya oksigen dari plasenta ke permukaan dalam hepar. Vena hepatica meninggalkan hepar dan mengembalikan darah ke vena cava inferior
b. Ductus Venosusc : adalah cabang – cabang dari vena umbilicalis dan mengalirkan sejumlah besar darah yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior
c. Arteria hypogastrica : merupakan lanjutan dari arteria illiaca interna, membawa darah kembali ke plasenta dengan mengandung leih banyak oksigen dan nutrien yang dipasok dari peredaran darah maternal
d. Ductus arteriosus : mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventriculus dexter ke dalam aorta descendens untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis dan ekstremitas inferior
1. penghentian pasokan darah dari plasenta
2. pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru
3. penutupan folamen ovalen
4. fibrosis, antara lain ;
a. Vena umbulicalis : membawa darah yang kaya oksigen dari plasenta ke permukaan dalam hepar. Vena hepatica meninggalkan hepar dan mengembalikan darah ke vena cava inferior
b. Ductus Venosusc : adalah cabang – cabang dari vena umbilicalis dan mengalirkan sejumlah besar darah yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior
c. Arteria hypogastrica : merupakan lanjutan dari arteria illiaca interna, membawa darah kembali ke plasenta dengan mengandung leih banyak oksigen dan nutrien yang dipasok dari peredaran darah maternal
d. Ductus arteriosus : mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventriculus dexter ke dalam aorta descendens untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis dan ekstremitas inferior
Sirkulasi darah fetus
Sirkulasi Darah
Fetus
PEREDARAN DARAH
JANIN
Sirkulasi darah janin dalam rahim tidak sama dengan sirkulasi darah pada bayi dan anak. Dalam rahim, paru-paru tidak berfungsi sebagai alat pernafasan, pertukaran gas dilakukan oleh plasenta. Pembentukan pembuluh darah dan sel darah dimulai minggu ke tiga dan bertujuan menyuplai embrio dengan oksigen dan nutrien dari ibu.
Darah mengalir dari plasenta ke janin melalui vena umbilikalis yang terdapat dalam tali pusat. Jumlah darah yang mengalir melalui tali pusat sekitar 125 ml/kg/Bb per menit atau
sekitar 500 ml per menit.
Melalui vena umbilikalis dan duktus venosus, darah mengalir ke dalam vena cafa inferior, bercampur darah yang kembali dari bagian bawah tubuh, masuk atrium kanan di mana aliran darah dari vena cafa inferior lewat melalui foramen
ovale ke atrium kiri, kemudian ke ventrikel kiri melalui arkus aorta, darah dialirkan ke seluruh tubuh.
Darah yang mengandung karbondioksida dari tubuh bagian atas, memasuki ventrikel kanan melalui vena cafa superior. Kemudian melalui arteri pulmonalis besar meninggalkan ventrikel kanan menuju
aorta melewati duktus arteriosus. Darah ini kembali ke plasenta melaui aorta, arteri iliaka interna dan arteri umbilikalis untuk mengadakan pertukaran gas
selanjutnya.
Foramen ovale dan duktus arteriosus berfungsi sebagai saluran/jalan pintas
yang memungkinkan sebagian besar dari cardiac output yang sudah
terkombinasi kembali ke plasenta tanpa melalui paru-paru.
Referensi
Depkes RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Cetakan Ke III. Jakarta.
Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Cetakan ke VI. Yogyakarta: Fitramaya.
listyaning.blogspot.com/2009/02/peredaran-darah-janin.html unduh 25 maret 2011, 12:56 PM
Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi-Obstetri Patologi. Edisi 2. Jakarta: EGC
Neil, W.R. 2001. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta: Dian Rakyat.
Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC.
Sulistyawati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika
Depkes RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Cetakan Ke III. Jakarta.
Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Cetakan ke VI. Yogyakarta: Fitramaya.
listyaning.blogspot.com/2009/02/peredaran-darah-janin.html unduh 25 maret 2011, 12:56 PM
Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi-Obstetri Patologi. Edisi 2. Jakarta: EGC
Neil, W.R. 2001. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta: Dian Rakyat.
Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC.
Sulistyawati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika
Kata Kunci
sirkulasi darah, sirkulasi darah janin, sirkulasi darah fetus, sirkulasi darah janin dalam kandungan, peredaran darah pada janin, sirkulasi janin, peredaran darah fetus, sistem peredaran darah pada ibu hamil, gambar sirkulasi darah janin, Sirkulasi peredaran darah janin, sirkulasi fetus, sirkulasi darah bayi, peredaran darah pada ibu hamil, gambar peredaran darah janin, peredaran darah, sistem sirkulasi janin, tali pusat, sirkulasi fetal, siklus peredaran darah janin, sistem pernapasan pada ibu hamil(askeb 1), sistem respirasi pada ibu hamil, pengertian peredaran darah janin, peredaran darah plasenta ibu ke janin, sirkulasi peredaran darah ibu ke janin, sirkulasi darah pada janin.
Langganan:
Postingan (Atom)
